{"id":8622,"date":"2021-05-05T08:35:57","date_gmt":"2021-05-05T08:35:57","guid":{"rendered":"http:\/\/kebunrayabaturraden.id\/?p=8622"},"modified":"2021-05-18T15:45:17","modified_gmt":"2021-05-18T15:45:17","slug":"si-cantik-menawan-anggrek-hitam","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/kebunrayabaturraden.id\/?p=8622","title":{"rendered":"Si Cantik Menawan Anggrek Hitam"},"content":{"rendered":"\n<p>Oleh : Dini\nRizki Pertiwi<\/p>\n\n\n\n<p style=\"font-size:18px\">Anggrek\nmerupakan salah satu flora khas Indonesia. Tumbuhan ini memiliki pesona yang\ndapat menawan siapapun, baik dari warga domestik maupun mancanegara. Hingga\ntidak heran jika anggrek acap kali dijadikan buruan oleh banyak orang. Direktorat\nJenderal Hortikultura telah mengeluarkan Surat Izin Pengeluaran (SIP) benih\nanggrek untuk kurang lebih 160 ribu batang per 2018 dan 70 ribu batang untuk diekspor\nke negara-negara seperti Jepang, Tiongkok, Taiwan, dan Thailand (Direktorat\nJenderal Hortikultura, 2019).<\/p>\n\n\n\n<p style=\"font-size:18px\">Salah\nsatu diva anggrek yang dikenal kebanyakan pecinta flora adalah anggrek hitam (<em>Coelogyne\npandurata<\/em>) yang berasal dari Kalimantan Timur. Helai bunganya berwarna hijau\ncantik dengan bibir berwarna hitam\u2014dan inilah asal-usul dari namanya (Rahmatia\n&amp; Pitriana, 2007). Selain itu, bunga ini juga mengeluarkan wangi saat\nmekar. Oleh sebab itu, anggrek hitam sering dikatakan mirip dengan bunga\nkenanga.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"font-size:18px\">\n \n \nAnggrek hitam merupakan anggrek epifit, hidup menempel di pohon besar.\nNamun dapat pula tumbuh di tanah (terestrial) yang dekat dengan aliran sungai. Menurut\nBadan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian Kalimantan Tengah (2011), tumbuhan\nini dapat tumbuh di dataran rendah hingga daerah pegunungan.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter is-resized\"><a href=\"http:\/\/kebunrayabaturraden.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/WhatsApp-Image-2021-05-04-at-08.50.21.jpeg\"><img loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/kebunrayabaturraden.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/WhatsApp-Image-2021-05-04-at-08.50.21-225x300.jpeg\" alt=\"Dokumentasi Anggrek Hitam Koleksi Kebun Raya Baturraden\" class=\"wp-image-8624\" width=\"225\" height=\"300\" srcset=\"http:\/\/kebunrayabaturraden.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/WhatsApp-Image-2021-05-04-at-08.50.21-225x300.jpeg 225w, http:\/\/kebunrayabaturraden.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/WhatsApp-Image-2021-05-04-at-08.50.21-768x1024.jpeg 768w, http:\/\/kebunrayabaturraden.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/WhatsApp-Image-2021-05-04-at-08.50.21-600x800.jpeg 600w, http:\/\/kebunrayabaturraden.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/WhatsApp-Image-2021-05-04-at-08.50.21.jpeg 960w\" sizes=\"(max-width: 225px) 100vw, 225px\" \/><\/a><figcaption>Anggrek Hitam.<br>(Dokumentasi Ika Fajar Safitri, Staff Kebun Raya Baturraden)<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p style=\"font-size:18px\">Daunnya berbentuk jorong sampai memanjang dan membentuk lipatan pada tulang daun. Serta daunnya tumbuh dari ujung umbi semu, sehingga panjang umbi semu dan daunnya kurang dari 120 cm. Bunganya sendiri berukuran lebih dari 7,5 cm dan mekar dari ujung ke arah pangkal tandan. Bibirnya yang berwarna hitam bercuping tiga, cuping sampingnya tegak dan cuping tengahnya memiliki banyak kutil.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"font-size:18px\">Buah\nanggrek hitam mempunyai ukuran yang lebih besar dari buah anggrek lainnya,\nsehingga mempunyai jumlah biji yang lebih banyak. Sehingga untuk\nperbanyakannya, proliferasi protokorm dapat dilakukan untuk meningkatkan jumlah\nanggrek (Hartati <em>et al<\/em>., 2017). Upaya tersebut dilakukan dengan cara\nmenambahkan zat pengatur tumbuh ke dalam medium. Namun, tidak menutup\nkemungkinan untuk melakukannya dengan pemisahan anakan.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"font-size:18px\">Keindahannya\nitulah yang membuat anggrek hitam menjadi incaran banyak orang. Bahkan dapat\ndiperkirakan jumlahnya kini di alam terhitung sedikit. Ditambah pula dengan\neksistensinya di alam asli tergeser akibat kebakaran hutan, konversi hutan, dan\npenebangan liar (Wraith &amp; Pickering, 2017). Oleh karena itu, penting sekali\nterwujudnya usaha konservasi dari anggrek hitam ini.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"font-size:18px\">Hingga\nakhirnya, tumbuhan ini dilindungi oleh peraturan perundang-undangan (UU Nomor 5\nTahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan PP\nNomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa). Kendati belum\nmasuk ke dalam IUCN RedList, anggrek hitam terdaftar ke dalam CITES (<em>Convention\non International Trade in Endangered Species of Fauna and Flora<\/em>) Appendix\nII. Usaha konservasi dilakukan baik secara in situ maupun eks situ.<\/p>\n\n\n\n<p style=\"font-size:18px\">Salah satu usaha perlindungan flora ini dilakukan oleh Kebun Raya Baturraden. Perawatan anggrek hitam dilakukan dengan penanaman di pot yang berisikan media campuran arang, pakis, dan <em>moss <\/em>atau diikat di media pakis. Penempatan tanaman juga penting, di mana anggrek hitam harus disimpan di tempat dengan banyak naungan. Intensitas penyiraman juga perlu diperhatikan, karena jika terlalu banyak disiram dapat membuat daun menjadi layu atau kuning.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Daftar\nPustaka :<\/p>\n\n\n\n<p>Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian Kalimantan Tengah. 2011. Tips Budidaya Anggrek Hitam (<em>Coelogyne pandurata<\/em> Lindl.). <a href=\"http:\/\/kalteng.litbang.pertanian.go.id\/ind\/index.php\/publikasi-mainmenu-47-47\/teknologi\/197-anggrek-hitam.\">http:\/\/kalteng.litbang.pertanian.go.id\/ind\/index.php\/publikasi-mainmenu-47-47\/teknologi\/197-anggrek-hitam.<\/a> Diakses 4 Mei 2021.<\/p>\n\n\n\n<p>Direktorat Jenderal Hortikultura. 2019. <em>Pasar Ekspor Anggrek Terus Meningkat<\/em>. <a href=\"http:\/\/hortikultura.pertanian.go.id\/?p=4177\">http:\/\/hortikultura.pertanian.go.id\/?p=4177<\/a>. Diakses 4 Mei 2021.<\/p>\n\n\n\n<p>Hartati, S.,\nArniputri, R.B., Soliah, L.A., &amp; Cahyono, O. Effects of organic additives\nand naphthalene acetid acid (NAA) application on the in vitro growth of Black\norchid hybrid (<em>Coelogyne pandurata<\/em> Lindley). <em>Bulgarian Journal of\nAgricultural Science<\/em> Vol 23(6) 2017: 951-957.<\/p>\n\n\n\n<p>Rahmatia, D. &amp; Pitriana, P. 2007. <em>Buku Pengayaan Seri Pengayaan Flora &amp; Fauna : Si Cantik Anggrek. <\/em>Surabaya: JP Books. <\/p>\n\n\n\n<p>Wraith, J. &amp; Pickering, C. Quantifying anthropogenic threats to orchids using the IUCN Red List. <em>Ambio<\/em> Vol 47(3) 2017: 307-317. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Dini Rizki Pertiwi Anggrek merupakan salah satu flora khas Indonesia. Tumbuhan ini memiliki pesona yang dapat menawan siapapun, baik dari warga domestik maupun mancanegara. Hingga tidak heran jika anggrek acap kali dijadikan buruan oleh banyak orang. Direktorat Jenderal Hortikultura telah mengeluarkan Surat Izin Pengeluaran (SIP) benih anggrek untuk kurang lebih 160 ribu batang&#8230; <\/p>\n<div class=\"clear\"><\/div>\n<p><a href=\"http:\/\/kebunrayabaturraden.id\/?p=8622\" class=\"excerpt-read-more\">Read More<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":8623,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"ngg_post_thumbnail":0},"categories":[56,80,84],"tags":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/kebunrayabaturraden.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8622"}],"collection":[{"href":"http:\/\/kebunrayabaturraden.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/kebunrayabaturraden.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/kebunrayabaturraden.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/kebunrayabaturraden.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=8622"}],"version-history":[{"count":7,"href":"http:\/\/kebunrayabaturraden.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8622\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8640,"href":"http:\/\/kebunrayabaturraden.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/8622\/revisions\/8640"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/kebunrayabaturraden.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/8623"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/kebunrayabaturraden.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=8622"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/kebunrayabaturraden.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=8622"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/kebunrayabaturraden.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=8622"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}