Pulai (Alstonia scholaris (L.) R. Br.), Pohon Papan Tulis yang Berkhasiat Obat
Oleh : Widya Puspitasari, Dini Rizki Pertiwi, Dewi Citra Sari.
Pulai
(Alstonia scholaris (L.) R. Br.) merupakan tumbuhan tropis yang berasal
dari Asia Selatan dan Tenggara (Silalahi, 2019). Penamaan genus ‘Alstonia’ merupakan bentuk penghargaan
kepada Charles Alston, seorang Profesor bidang Botani di Universitas Edinburgh.
Sedangkan ‘scholaris’ berasal dari
pemanfaatannya sebagai bahan dasar papan tulis sekolah di beberapa daerah di
Asia Tenggara, sehingga pulai
disebut juga sebagai blackboard tree
(pohon papan tulis) (Soerianegara
& Lemmens, 1993). Selain itu, pulai juga disebut dengan nama devil tree (pohon hantu) atau milkwood pine (pohon yang menghasilkan getah
seperti susu) (Silalahi, 2019).

Pulai merupakan salah satu tumbuhan yang mudah ditemukan di Indonesia sebagai pohon peneduh dan bahan obat. Berikut adalah klasifikasi dari pulai berdasarkan Integrated Taxonomic Information System,
Kingdom : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Gentianales
Famili : Apocynaceae
Genus : Alstonia
Spesies :
Alstonia scholaris
Kebun Raya Baturraden memiliki beberapa koleksi pulai yang tersebar di Vak Flora of Java, Vak Tumbuhan Berguna, dan Vak Getah Putih. Koleksi pulai tersebut memiliki kondisi tumbuhan yang berbeda, misalnya koleksi pulai yang ada di Vak Getah Putih yang ditanam pada tahun 2016 memiliki tinggi 167 cm, lingkar batang 8 cm, dengan ukuran daun terlebar sebesar 19 cm x 5,3 cm. Koleksi pulai lain yang ada di Vak Tumbuhan Berguna memiliki ukuran yang lebih besar dengan tinggi ± 9 m, lingkar batang 32 cm, dan ukuran panjang x lebar daun terlebar sebesar ± 20,5 cm x 5,5 cm. Pada pengamatan yang dilakukan pada bulan Juli 2021, koleksi pulai di Kebun Raya Baturraden sedang dalam keadaan tidak berbunga sehingga kondisi perbungaannya belum dapat dilaporkan.
Pulaimemiliki batang dengan tipe erectus (batang yang tumbuh tegak lurus) yang dapat tumbuh hingga 40 m. Diameter batangnya dapat mencapai 125 cm. Kulit batangnya rapuh, rasanya sangat pahit, dan getahnya berwarna putih (Soerianegara & Lemmens, 1993).
Daunpulai memiliki pertulangan daun menyirip dan berwarna hijau. Bentuknya bervariasi mulai dari lonjong sampai lanset atau lonjong sampai bulat telur sungsang. Permukaan daun atas licin dengan tepi daun rata. Daunnya sepanjang 10 hingga 23 cm, lebar 3 hingga 7,5 cm, dan berwarna hijau (Indartik et al., 2009).

Perbungaannya tersusun dalam rangkaian malai yang bergagang panjang dan keluar dari ujung tangkai. Bunga berbau wangi, berwarna hijau terang sampai putih kekuningan, dan berambut halus yang rapat. Buahnya termasuk jenis buah bumbung berbentuk pita yang. Biji buahnya kecil dengan panjang 1,5 hingga 2 cm, berambut pada bagian tepinya, dan berjambul pada ujungnya (Indartik et al., 2009).
Selain digunakan untuk material kayu (Nggadas et al., 2019), pulai telah lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional di beberapa daerah di Asia. Rebusan kulit batangnya dapat digunakan untuk mengobati diare dan malaria. Sementara rebusan daunnya dapat dikonsumsi untuk mengobati beri-beri dan asma (Meena et al., 2011). Pulai merupakan salah satu tumbuhan yang kerap digunakan dalam metode pengobatan tradisional India (Ayurveda) untuk mengobati demam, disentri, dispepsia, asma, dan kejang (Kher, 2007).
Pemanfaatan pulai sebagai obat tradisional berhubungan dengan kandungan metabolit sekundernya terutama senyawa dari kelompok alkaloid. Senyawa ini yang membuat kulit batang terasa pahit (Silalahi, 2019). Senyawa tersebut meliputi alskomin, pikrinin, pikralinal, narelin, alstonamin, echitamin, alstorisin, dan lain-lain (Pandey et al., 2019). Pil ekstrak alkaloid dari daun ini telah diuji ke orang sehat, di mana pada uji klinis fase I ini tidak menunjukkan dampak negatif (Gou et al., 2021). Selain alkaloid, pulai juga mengandung beberapa metabolit sekunder lain seperti senyawa kuersetin, asam alstonik A dan B, alstoniasidin A dan B, lupeol, asam ursolat, dan senyawa-senyawa antioksidan lainnya (Pandey et al., 2019).
DAFTAR REFERENSI
Gou, Z.P., Zhao, Y.L., Zou, L L., Wang, Y., Shu, S.Q., Zhu, X.H., & Feng, P. 2021. The safety and tolerability of alkaloids from Alstonia scholaris leaves in healthy Chinese volunteers: a single-centre, randomized, double-blind, placebo-controlled phase I clinical trial. Pharmaceutical Biology, 59(1), pp. 484-493.
Indartik. 2009. Potensi Pasar Pulai (Alstonia scholaris) Sebagai Bahan Baku Industri Obat Herbal:Studi Kasus Jawa Bawat dan Jawa Tengah. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan 6(2), pp. 159 – 175.
ITIS. “Alstonia scholaris (L.) R. Br.” Integrated Taxonomic Information System, 2011, https://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=184803, Diakses 30 Juni 2021.
Kher, C.P. 2007. Indian Medicinal Plants : An Illustrated Dictionary. Berlin: Springer Verlag.
Meena, A. K., Nitika, G., Jaspreet, N., Meena, R. P., & Rao, M.M. 2011. Review on ethanobotany, phytochemical and pharmacological profile of Alstonia scholaris. International Research Journal of Pharmacy, 2(1), pp. 49-54.
Nggadas, A., Idham, M., & Sisillia, L., 2019. Studi Etnobotani Suku Dayak Ribun Dalam Pemanfaatan Tumbuhan Bernilai Seni di Desa Gunam Kecamatan Parindu Kabupaten Sanggau. Jurnal Hutan Lestari, 7(2), pp. 682-696.
Pandey, K., Shevkar, C., Bairwa, K., & Kate, A.S. 2020. Pharmaceutical perspective on bioactives from Alstonia scholaris: ethnomedicinal knowledge, phytochemistry, clinical status, patent space, and future directions. Phytochemistry Reviews, 19(1), pp. 191-233.
Silalahi, M., 2019. Botani dan Bioaktivitas Pulai (Alstonia scholaris). Jurnal Pro Life, 6(2), pp. 136-147. Soerianegara, I. & Lemmens, R.H.M.J. 1993. Plant Resources of South-East Asia, No 5(1), Timber Trees: Major Commercial Timbers. Wageningen: Pudoc Scientific Publishers.
